Luffy - One Piece
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2014

Tere Liye - Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin

Judul buku : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka
Tahun terbit : 2010
Tebal : 264 Halaman
ISBN : 978-979-22-5780-9









Salah satu hal yang bikin pengen nyakar-nyakar tembok ialah mendengar kisah tentang dua orang yang sama-sama mencintai tapi tidak berakhir dengan happy ending. Lebih nyess lagi, karena keduanya sama-sama tidak pernah saling mengungkapkan sampai salah satu di antara mereka sudah menikah. *gali tanah.
**
Seperti kisah Tania dan Danar. Tania bertemu  Danar saat usianya menginjak 11 tahun, terpaut sekitar 14 tahun dengan usia Danar. Bagi Tania, Danar adalah malaikat penolong keluarga mereka. Sedang bagi Danar, Tania beserta keluarganya adalah keluarga baru dia juga.
Bertemunya Tania dengan teman dekat Danar, Ratna, membuatnya semakin menyadari tentang perasaannya yang istimewa terhadap Danar. Perasaan yang seharusnya tidak layak dia rasakan, tidak seharusnya dia mencintai malaikat penolongnya itu.
Tania akhirnya berusaha menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Hanya ibunya yang tahu sampai beliau meninggal, dan Tania semakin berusaha menjadi yang terbaik demi membuat Danar bangga, dan juga siapa tahu kelak perasaannya terbalas.
Tapi ternyata semua menjadi serba tidak mudah semenjak kehadiran Ratna, apapun yang Tania rasakan menjadi sama sekali tidak ada artinya. Seperti daun yang tidak pernah membenci angin, seperti dia yang harus mengikhlaskan perasaannya pada Danar.
**
Bagi yang maniak membaca novel Tere Liye, pasti akan langsung ‘ngeh’ kalau novel ini ‘terasa’ agak kurang Tere Liye. Seperti membaca teenlit, bahasanya ringan dan renyah.
Tapi bukan Tere Liye namanya jika tidak menyelipkan pesan kebaikan di setiap tulisannya. Begitu pun di dalam tulisan ini, yang saya pribadi baru memahami maksudnya beberapa tahun setelah membaca novelnya. Hahaha lemotnya kambuh, huh.
Awalnya saya membaca buku ini setengah-setengah, agak males karena bahasa Tere Liye yang agak berbeda, tapi nanggung kalau tidak saya selesaikan. Dan untungnya benar-benar berhasil saya selesaikan meskipun dengan perasaan sedikit kecewa. Yah, kok bahasanya Tere Liye gini sih? Hehehe *ampun bang.
Di sana diceritakan, demi Danar Tania berusaha mati-matian mengejar ketertinggalan sekolahnya sampai bisa berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan menjadi yang terbaik di sana. Seperti itulah bukan yang seharusnya kita lakukan jika mencintai seseorang? Terur, terus, dan terus memperbaiki diri. Semakin galau, semakin giat memperbaiki diri. Membuktikan pada yang dicinta bahwa kita ini layak untuk mendampinginya, ihiyyy.
Sayangnya, dengan segala usahanya itu. Tania juga tidak dapat ‘bersatu’ dengan Danar. Nyeseeek banget bagian ini, terlebih sebenarnya Danar pun diam-diam menyukai Tania. *Kan, gali tanah lagi*. Di poin inilah rasa ikhlas yang berperan. Seperti jatuhnya daun yang tidak pernah membenci angin, seperti Tania yang berusaha untuk tidak membenci takdirnya ketika bukan dengan dialah, Danar bersanding.huhu
Secara logika, jelas sulit sekali menemukan kisah jatuh cinta dengan usia yang terpaut sejauh itu di zaman sekarang. Meskipun ada tapi jarang. Setahu saya, sih. Jadi, si cowok terkesan pedofil. heuuu
Lalu gambaran adiknya Tania yang sedang dalam masa alay dengan suka mengganti nama ID nya di Chatting Room. Agak geli sih, bacanya.
Oh iya, saya suka sekali dengan endingnya. Tidak dipaksakan bahagia, dan saya sendiri sebagai pembaca dibuat mengerti kenapa harus endingnya seperti itu.
Buku ini sangat cocok untuk remaja meskipun saya lebih menyukai buku-buku Tere Liye lainnya ketimbang buku ini, ahhh  karena masalah selera saya yang setia dengan gaya penulisan Tere Liye yang biasanya.hehehe

Untuk remaja yang galau, yang dewasa juga sih. Baca ini gih! memotivasi untuk terus memperbaiki diri ketika jatuh cinta. Bukannya malah terpuruk. Juga, belajar ikhlas dengan segala ketentuan dan takdir Allah.
**

“Dulu Anne pernah bilang, orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tau lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
Dua quote yang juaraaaa.. maknyes makjleb

Sumber : http://ningfina.blogspot.com/2013/10/resensi-3-daun-yang-jatuh-tak-pernah.html

»»  Baca Selengkapnya...

Tere Liye - Hafalan Shalat Delisa

Sinopsis Novel Hafalan Salat Delisa
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Pertama Terbit: 2007
Jumlah Halaman:  248


Novel manis yang satu ini mengangkat kisah seorang bocah perempuan bermata hijau telaga yang baru berusia 6 tahun. Gadis cilik tersebut bernama Delisa. Ia merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Adapun kakak-kakan Delisa adalah Cut Fatimah, Cut Zahra dan juga Cut Aisyah. Keluarga Delisa berdomisili di Lhok Nga. Delisa dan saudara-saudaranya hanya tinggal bersama Ummi, sebab sang Abi bekerja sebagai mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar.

Meski merindu, tetapi Delisa tetap menjalani hari-hari mereka tanpa sang Abi. Suatu hari Delisa mendapat tugas dari sekolahnya. Tugas tersebut adalah menghafal bacaan salat. Delisa giat sekali menghapas bacaan-bacaan tersebut. Terlebih ummi menjanjikan ia hadiah jika Delisa berhasil menghafal baccan tersebut. Hadiah yang membuat Delisa semangat adalah kalung emas yang dijual di toko Ko Acan. Ko Acan sendiri merupakan sahabat Abi Delisa.

Tanggal 26 Desember tahun 2004, Delisa dan semua teman seisi kelasnya dijadwalkan mempraktekkan hafalan solat yang telah mereka hapalkan beberapa waktu. Saat tiba giliran Delisa, sembari mengucapkan bacaan solat, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Semua tampak gonjang ganjing. Dan seketika, air laut mulai naik ke daratan dengan ganasnya. Ia bagai tangan raksasa yang merengkuh segala yang ia jumpai. Bencana tersebut adalah gempa hebat yang disusul tsunami. Kurang lebih 15.000 orang yang meninggal akibat bencana ini. Termasuk di dalamnya Ummi dan kakak-kakan Delisa.

Delisa sendiri selamat. Ia tersangkut di semak belukar. Siku kanan bocah tersebut patah dan kakinya bagian kanannya terjepit di bebatuan. Setelah 6 hari terjebak di tempat terebur, Delisa kemudian ditemukan oleh seorang prajurit relawan bernama Smith. Delisa yang dilihatnya sangat bercahaya kemudian membawa prajurit tersebut untuk masuk Islam.

Karena suasana yang kacau balau, Abi yang telah mengetahui bencana tersebut tak bisa menemukan Delisa. Ia menghabiskan beberapa waktu sebelum akhirnya bertemu gadis mungilnya. Saat bertemu Abinya, Delisa bercerita layaknya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Bencana tak menghapus keceriannya. Termasuk saat kaki kanan Delisa harus diamputasi, semuanya tak berhasil membuat ia murung. Ia bersama Abi menjalani hidupnya. menata dari awal. Meski jasad Ummi dan ketiga kakaknya belum ditemukan, tapi Delisa dan Abi harus hidup normal, begitu pikirnya.

Suatu waktu Delisa melihat ada sebuah pantulan cahaya yang mengganggu penglihatannya. Karena penasaran, Delisa pun mendekat. Dan tak disangka, cahaya tersebut merupakan pantulan kalung dengan huruf D. Dan kalung tersebut berada dalam pegangan seseorang. Ummi Delisa sendiri.

Kisah novel ini sangat menyentuh. Layak untuk Anda hadiahkan bagi keluarga terdekat utamanya anal-anak yang sedang menghafalkan bacaan solatnya. Buku ini bisa menjadi motivasi bagi mereka. Selamat berburu novel Hafalan Salat Delisa ya!

Sumber : http://sinopsisnovelku.blogspot.com/2013/05/sinopsis-novel-hafalan-salat-delisa.html

»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 20 Desember 2014

Tere Liye - Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Judul Novel : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Karya : Tere Liye
Jumlah : 426 halaman
Penerbit : Republika
13895117401352544855
Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Ini bukan novel baru Tere Liye, karena cetakan pertama telah beredar tahun 2009.  Secara jujur semakin saya membaca karya-karya Tere Liye, semakin saya terkagum-kagum dengan pencipta manusianya. Ya, darimana ide itu berasal? Darimana indahnya kalimat menetes mengalir mengisi kertas-kertas kosong yang tersedia di hadapan? Darimana seseorang mampu mengaitkan peristiwa satu dengan yang lain dengan jalinan imajinasi yang demikian berkesinambungan? Saya percaya bahwa Tere Liye hanyalah jelmaan kehendakNya mengajarkan hikmah pada manusia.  Tentu sebagai manusia, Tere Liye dilengkapi dengan kekurangan-kekurangan yang menyertainya. Tak semua karya mungkin sama kualitas dan sama menyentuhnya di hati para pembaca, itu hal yang amat jamak. Namun setidaknya upaya berdakwah dan memperluas wawasan, memberikan pemahaman tentang hidup yang diselipkan dalam karya-karyanya amat nyata terbaca.
Maka setelah beberapa novel kami nikmati sebagai hidangan lezat di keluarga kami, saya memesan Rembulan Tenggelam di Wajahmu melalui sms ke toko buku online Delisa di 0898-909-8467.  Buku itu kemudian dikirimkan 4 hari setelah transfer, plus bonus tanda tangan si penulisnya. Ini tentu kegembiraan pertama yang saya dapatkan sebelum membaca karyanya :)
***
Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang lelaki bernama Rehan Raujana. Nama yang diberikan oleh Ibu Panti yang membesarkannya. Kata kehidupan ini bukan hanya sepenggal kisah perjalanan singkat saja, melainkan keseluruhan kisah hidup tokoh utamanya dari ia dilahirkan di dunia hingga menjelang akhir hayatnya.
Tere Liye menyajikan kisah ini dengan sangat unik, karena dikemas dalam alur mundur melalui perjalanan metafisik yang amat fantastis dan menarik. Ini bukan tentang biografi seorang anak manusia, namun terlebih pada aneka hikmah pembelajaran yang lebih dalam untuk memaknai hidup itu sendiri.
Sekitar 5 hari sebelum meninggalnya Ray ( nama panggilan ketika sudah dewasa), yang ketika itu berusia 60 tahun, dan dalam keadaan sakit keras, ia didatangi oleh seorang yang disebut penulis sebagai “orang berwajah menyenangkan”. Saya yakin yang dimaksud penulis adalah asosiasi dari Nabi Khidir, untuk menemani perjalanan metafisik menapaki kehidupan dari kecil hingga tua seorang pasien bernama Ray, yang adalah seorang konglomerat dengan kerajaan-kerajaan bisnis di property, telekomunikasi dll yang ia raih dengan perjalanan amat berliku.
Ini bukan sekadar pemutaran ulang kisah hidup, namun Ray diberi kesempatan melihat dari sisi lain yang ia tidak pernah tahu sebelumnya. Perjalanan inilah yang akhirnya mampu menjawab lima besar pertanyaan yang mengetuk-ngetuk hati dan kepalanya sepanjang hidupnya.
Di masa kecil, Ray yang masih dipanggil Raehan, tinggal di sebuah panti asuhan dan tak tahu asal mula kehidupannya sendiri. Ia tumbuh menjadi seorang anak lelaki bandel, fisik yang kuat, namun berotak amat cerdasnya. Ia menjadi bandel adalah semata-mata karena dipicu lingkungan panti asuhan yang “amat tidak ideal”. Penjaga panti ialah seorang yang “mengeksploitasi” anak-anak dengan mempekerjakan mereka di jalanan. Ia pun menyalahgunakan sumbangan dari para donatur untuk  mencapai ambisinya yang adalah ; naik haji. Satu kemunafikan yang jelas amat bertentangan dengan tujuan mulia itu pastinya.
Rehan yang cerdas dapat menangkap peta politik si penjaga panti, sehingga ia menjadi seorang yang skeptis. Termasuk skeptic terhadap takdir hidupnya sendiri. Sebenarnya teman sekamar Rehan yang bernama Diar amat menyayanginya. Diar yang amat peduli. Yang selalu menyisakan setengah jatah makanannya ketika sahabatnya pulang larut malam dengan memanjat pagar dan mencongkel jendela kamar. Sahabatnya yang keterampilannya meningkat dari hari ke hari. Jika saat itu Rehan tidak peduli dan menerima kebaikan dengan datar-datar saja, itu karena mata dan hatinya sudah diliputi perasaan benci. Benci terhadap penjaga panti yang sok suci di matanya. Benci terhadap takdirnya.
Hingga menggiringnya memilih kabur dari panti asuhan itu dan memilih menjadi preman di terminal, dan mulai belajar berjudi.
Namun sebelum itu, Rehan yang cerdas berhasil masuk ke ruang arsip untuk mencari tahu asal usul dirinya. Di sanalah ia menemukan sebuah berkas bertuliskan nama lengkap Rehan Raujali, dan sepotong guntingan kertas koran yang sudah hampir menguning. Sebuah berita di surat kabar yang mengabarkan peristiwa kebakaran bangunan ruko dan membakar habis seluruh isi dan penghuninya, kecuali seorang bayi laki-laki yang tersisa. Nalar dan logikanya kemudian mulai merangkai peristiwa demi peristiwa, dan menyimpulkan, bahwa bayi laki-laki malang itulah dirinya. Siapa yang melakukan perbuatan keji itu??
Teramat banyak kepahitan hidup yang dialami setelah ia kabur dari panti asuhan. Diar, sahabat baiknya sebagaimana penghuni panti lainnya menjalani keseharian dengan bekerja. Dan saat itu Diar bekerja sebagai penjaga toilet umum di terminal, tempat Rehan melangsungkan aksinya sebagai preman. Rehan mencuri celana jins milik supir bis malam yang sedang mandi di toilet umum tersebut, dan lalu membawanya lari untuk dijual. Uang hasil penjualannya selain untuk membeli makan, juga dihabiskan di meja judi.
Sementara Diar yang tidak sempat menjelaskan tentang siapa pencuri celana jins tersebut menjadi korban amuk massa dengan siksaan yang amat mengerikan. Beruntung polisi segera datang sebelum massa membakarnya hidup-hidup, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Di ruang ICU itulah Diar bersebelahan dengan Rehan yang dirawat di ruang yang sama dalam kondisi sama kritisnya. Petualangan Rehan di meja judi, menang-kalah dan lalu menang lagi hingga menggulung habis kekayaan si Bandar judi harus dibayar mahal. Ia ditemukan polisi dengan luka 7 tusukan di lambung yang amat parah. Dan takdir pula yang menentukan hingga keduanya dirawat di ruang ICU yang sama.
Di sinilah ternyata ruang yang ditentukan langit untuk menjadi titik balik si penjaga panti. Diar dalam kesaksian terakhirnya mengakui bahwa dialah perusak tasbih milik penjaga panti. Ketika itu Rehan mengakui kesalahan itu sebagai kesalahannya hingga hukuman cambuk dan siksaan itu ditanggungnya dengan sepenuh ketegaran. Bagi Rehan, pengakuan itu hanya sebagai bentuk perlawanan. Sementara bagi Diar, peristiwa itu amat meninggalkan kesan mendalam sehingga terhitung hari itu, ia bersumpah untuk selalu menghargai Rehan, sahabatnya. Ia tak peduli bagaimana pun kebandelan Rehan, dan bagaimana pun Rehan di mata orang lain, di mata Diar, Rehan adalah pahlawan. Rehan adalah orang yang amat dia sayangi.
Detik-detik akhir sebelum akhirnya Diar menghembuskan napas terakhirnya, ia menitipkan Rehan pada penjaga panti agar menyelamatkannya.  Penjaga panti yang seperti menemukan cahaya di lorong gelap, serta merta dibukakan matanya atas seluruh kesalahan besar yang ia lakukan selama ini. Dan tabungan yang hampir terkumpul untuk menunaikan ibadah haji diambilnya untuk membiayai pengobatan Rehan ke ibu kota. ( Peristiwa demi peristiwa ini dikisahkan oleh orang berwajah menyenangkan pada Ray, karena ketika itu jelas Ray tidak pernah tahu tentang apa yang Diar pikirkan. Termasuk ketika Diar meninggal pun, Ray tidak tahu karena saat itu dia sendiri sedang kritis).
Kepahitan hidup Rehan remaja sempat berhenti ketika ia dititipkan ke sebuah rumah singgah sepulang ia berobat selama 6 bulan di ibu kota itu. Rumah singgah  yang pertama kali mengajarkannya  tentang arti sebuah keluarga. Bang Ape, pemilik /pengelola rumah singgah itu mengajarkan banyak hal. Termasuk motivasi yang terus menerus ditanamkan untuk menjadi orang yang baik.  “Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepalan tangan untuk mengubahnya”, adalah salah satu kalimat motivasi yang amat dalam tertanam di hatinya, dan juga pastinya di hati teman-teman rumah singgah itu.
Ketika salah seorang diantara mereka diadopsi orang sehingga harus meninggalkan rumah singgah itu, kembali Bang Ape memberikan mantranya ; “Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun berada, kalian sungguh akan tetap menjadi saudara. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara
Dan memang bagi Rehan, anak-anak di rumah singgah amat berarti baginya, sehingga kembali naluri kepahlawanan itu muncul ketika salah seorang anggotanya diganggu oleh preman.  Dan perkelahian demi perkelahian karena solideritas Rehan tentu bertentangan dengan apa yang diajarkan Bang Ape. Bahwa kejahatan tak selamanya harus dibalas dengan kejahatan. Atau banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk membalas kejahatan, sama sekali jauh dari keyakinan Rehan. Jika bukan dia yang membalas, siapa lagi? Jika bukan dia yang peduli siapa lagi? Bukankah semua orang yang melihat sebuah kasus-kasus kejahatan itu jamaknya memilih diam dan mengamankan diri sendiri? Akhirnya kehidupan di rumah singgah pun berakhir juga dengan cara yang sama: kabur. Kali ini karena ia merasa bahwa ia tak dapat mengikuti apa yang diajarkan dan diyakini oleh Bang Ape, orang yang amat ia hormati.
Rehan meneruskan hidup sebagai pengamen di kereta. Keahlian bermain gitar yang diperoleh dari Natan, seorang sahabatnya di Rumah Singgah ternyata mampu menjadi salah satu jalan menyambung hidupnya. Berbeda dengan Natan yang memiliki suara bagus, Ray hanya mengamen dengan gitar tanpa lagu yang mengiringi.Ia tinggal di kontrakan sempit dan kumuh yang bertetangga dengan sebuah rumah besar yang mentereng.
Satu hal kebiasaan Rehan dari semasa di Panti dulu adalah memandang rembulan setiap purnama tiba. Hanya dengan mengagumi keindahan rembulan, Rehan mampu menangkap satu keindahan hidup yang menentramkannya.  Sampai suatu saat ketika ia dengan lincah turun dari tower air yang tingginya mencapai 10 meter, pengontrak rumah mentereng di sebelah tower itu terkagum-kagum dan mengajaknya berkenalan.
Di kemudian hari, lelaki yang menawarkan persahabatan dengan secangkir coklat panas itu mengajak kerja sama. Yang adalah melakukan pencurian berlian seribu karat yang tersimpan di lantai 40 gedung di ibukota. Kisah detail tentang bagaimana keduanya mempersiapkan ‘proyek besar’ amat menegangkan tentu saja. Dimulai dari latihan lari pagi selama beberapa bulan sebelumnya untuk menjaga stamina, bagaimana merencanakan secara rapi aksi tersebut, bagaimana menaiki gondola pembersih kaca gedung tersebut dan bagaimana menjinakkan alat pendeteksi pengamanan benar-benar membuat setiap pembaca ‘deg-deg plas’ mengikutinya :D
Sebuah lembaran baru hidup Ray (nama baru yang kemudian ia sematkan untuk dirinya sendiri) dimulai ketika ia memutuskan untuk pulang kampung setelah bertahun-tahun merantau ke ibukota. Saat itulah masa pembangunan diri buatnya. Ia memutuskan menjadi kuli bangunan di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat. Kecerdasan dan mental yang ulet membuat kinerjanya amat bagus sehingga Ray naik posisi dengan cepat. Dan pengalaman hidup serta sifatnya yang bersahabat menjadikan ia didukung  penuh oleh para pekerja di bawahnya.
Dari sekian perjalanan panjang yang dilalui seorang Ray, mungkin babak inilah masa termanis dalam hidupnya. Pertemuan tak disengaja di ruang makan kereta yang membawanya ke kota itu memang telah membuat hari yang berbeda. Namun ketika kemudian gadis itu tak menggubrisnya, ia memilih untuk mencoba melupakan. Namun begitulah takdir sebuah cinta diatur oleh pemilik hidup. Gadis itu kembali muncul di dekat lokasi proyek tempat Ray bekerja.
Ray yang masih setia dengan kebiasaan lamanya memandang rembulan, kembali melakukan hal yang sama. Kini lebih tinggi dari tower air, karena dari ketinggian lantai 18 bangunan yang hampir rampung.  Dari teropong bintang yang dimilikinya ia menangkap gadis yang ditemuinya di kereta itu masuk sebuah rumah sakit. Kisah cinta milik siapa pun juga pasti selalu menarik untuk disimak. Lengkap dengan segala perjuangan yang mewarnainya. Terlebih untuk seorang penulis Tere Liye yang mampu menyulap segalanya menjadi jauh lebih indah, lebih mengesankan, memilukan, membahagiakan dan segala warna-warni cinta yang mampu tercipta dalam ruang imaji manusia.
Maka untuk babak ini, membacanya langsung buku ini pastinya lebih pas dan lengkap terasa :D
Singkat cerita, Ray akhirnya menikahi gadis cantik itu yang selanjutnya ia panggil sebagai “Si Gigi Kelinci”. Pasangan yang sangat berbahagia. Seorang suami pekerja keras dan seorang istri yang begitu setia dan ikhlas mendukung dengan sepenuh hati adalah kombinasi paling indah tentu saja.
Namun, lagi-lagi yang abadi dalam hidup adalah perubahan. Dan bahagia sekian tahun kebersamaan dengan si gigi kelinci itu pun akhirnya terenggut oleh takdir. Setelah dua kali kehilangan calon anak mereka dalam kandungan, Ray harus rela melepas kepergian Si Gigi Kelinci untuk selama-lamanya. Kepergian yang terlalu cepat pastinya untuk orang yang ditinggalkannya. Namun sepotong kalimat luar biasa yang diucapkan istrinya ketika menjelang maut, bukanlah sebuah pesan yang memberatkan Ray. Ia justru berkata :
“Apakah aku cantik? Aku selalu ingin terlihat cantik di depanmu. Apakah kamu ikhlas denganku sebagai istrimu?”
Dan sosok Si Gigi Kelinci inilah yang ternyata juga menginspirasi banyak pembacanya. Ya, Tere Liye berhasil menyematkan sebuah pesan, yaitu cara sederhana untuk meraih surga melalui sosok sang istri yang pastinya akan lebih tertangkap ketika kita menyimak detail ceritanya.
Kekecewaan demi kekecewaan hidup sungguh terasa amat senang menghampiri hidup Ray. Kembali, Ray memilih melarikan diri, namun kali ini di jalan yang berbeda. Ia menenggelamkan diri dalam kesibukan. Ia mulai memberanikan diri membangun bisnis sendiri. Di sini pembaca baru diingatkan kembali pada seribu karat berlian curian yang akhirnya mengantarkan Plee, kenalan yang mengajaknya bekerja sama melakukan proyek besar itu. Berlian yang disimpan di tangki air dengan kedalaman 3 meter di dekat rumah singgah itu akhirnya dijadikan modal untuk memulai bisnis property.
Dari seorang anak panti, preman terminal, dan kuli bangunan, kini Ray menjadi konglomerat yang memiliki kerajaan bisnisnya sendiri.  Ray kini telah menggenggam kekayaan yang tak terhingga. Namun hidupnya tetap sepi dan hampa terasa. Cinta yang sempat hadir dalam kehidupannya pun terenggut sudah oleh takdir.
Ray, laki-laki berkekuatan fisik lebih dari rata-rata di tengah gemilang kerajaan bisnisnya ternyata semakin menyusut kesehatannya. Berbagai penyakit menyerang dan tubuhnya kini digerogoti penyakit. Ia kini menjadi pasien. Memang kondisinya berbeda. Jika dulu ia seorang yang papa, kini ia adalah seorang pasien yang amat dihormati. Seorang anak buah yang amat setia bernama Jo pun terus mendampini. Namun sakit dan  kepedihan hidup yang beruntun serta rasa hampa yang membangkitkan nelangsa itu menjadikan ia marah pada takdir.
Kenapa ia harus hidup  di panti asuhan sial itu?
Apakah hidup adil?
Kenapa langit tega mengambil  istri tercintanya?
Apakah kaya adalah segalanya?
Kenapa ia harus sakit keras yang berkepanjangan?
Lima pertanyaan besar dalam hidup itu seolah mengetuk-ngetuk kepalanya sepanjang hidup. Dan perjalanan metafisik itulah yang menjawab satu demi satu pertanyaan itu. Jawaban yang diberikan dengan mengungkapkan segala fakta dari sisi yang selama ini Ray tidak pernah tahu. Peristiwa demi peristiwa yang oleh penulisnya diberikan sebuah benang merah bahwa tak ada yang dapat merubah takdir kecuali satu ; kebaikan. Juga bahwa setiap perbuatan dan jalan hidup manusia akan saling berkaitan dan menjadi penyebab takdir manusia lainnya.
Di novel ini, saya membaca bagaimana Tere Liye berusaha menuangkan segala pemikiran dan pemahamannya tentang hidup dan berkehidupan. Membangkitkan kesadaran pada pembaca bahwa banyak sisi hidup yang tidak ketahui dan ternyata tidak seperti yang kita pikirkan.
Perjalanan dan kilas balik yang dialami Ray ibarat kepingan puzzle yang pada akhirnya ia temukan sehingga terbentuklah gambaran hidup yang utuh. Ini adalah kisah sangat menarik untuk menjelaskan sebuah kalimat yang terdengar klise lebih karena frekuensi yang kita dengar ; bahwa sebenarnya tak ada sekeping perjalanan pun yang terjadi tanpa rencana Tuhan.
Ya, apa yang kita sebut sebagai kepahitan hidup, ternyata hanya persepsi kita semata. Andai kita selalu berbaik sangka pada takdir, seburuk apa pun yang dihadapi, maka sesuatu menjadi sederhana saja. Hidup tidak rumit.
Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama seperti Ray di akhir hidupnya. Kesempatan untuk kembali, kesempatan untuk menengok perjalanan dan dibukakan kenyataan / peristiwa yang tak diketahuinya. Kedatangan sesosok Nabi Khaidir ini pun oleh penulis diibaratkan sebagai sebuah doa yang dikabulkanNya. Doa seorang ibu sebelum mati terbakar yang melemparkan anak bayinya ke tangan laki-laki yang menolongnya dari kebakaran. Bukankah doa seorang ibu mampu menjebol pintu langitNya? Bukankah doa orang yang dalam penderitaan/kesusahan/aniaya amat dekat untuk dikabulkanNya?
Maka di sinilah Ray mendapatkan kesempatan yang melanggar aturan yang berlaku. Bahwa seseorang hanya bisa kembali ke sebuah tempat yang pernah ia singgahi. Namun langit memberikan anugerah yang berbeda. Ray dalam perjalanan metafisikanya itu mampu melihat ayah bundanya ketika ia masih balita, mampu melihat kejadian pembakaran yang menewaskan keduanya. Dan seterusnya.
Sebagai manusia, kita ibarat pemain dalam sebuah cerita. Kita hanya tahu bagian cerita yang kita mainkan saja. Bagian demi bagian itulah yang akan merangkai menjadi sebuah cerita yang utuh.
Maka peran apa pun yang kita terima hari ini, berbahagialah, bersabarlah, berbaik sangkalah! Karena sesungguhNya, Tuhanmu dan Tuhanku Maha Mengetahui dan skenario-Nya tak pernah keliru.

Sumber : http://media.kompasiana.com/buku/2014/01/12/rembulan-tenggelam-di-wajahmu-sinopsis-627361.html

»»  Baca Selengkapnya...

Tere Liye - Sunset bersama Rosie

” Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki gunung. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi. “

Bagi yang pernah membaca novel berjudul Sunset Bersama Rosie mungkin tidak akan asing dengan kalimat di atas. Kalimat di atas adalah potongan dari salah satu novel karya Darwis Tere Liye. Novel yang cukup memain-mainkan emosi bagi saya.
Gili Trawangan. Mungkin itu kata pertama yang akan telintas dari pikiran kita ketika mendengar nama judul novel ini.
sunset bersama rosie
Novel ini berkisah tentang sesosok pria bernama Tegar yang mempunyai masa lalu kelam tentang perasaan cintanya yang tak pernah tersampaikan kepada Rosie, teman karibnya dari sejak kecil. Beranjak dewasa, Tegar mempunyai keinginan untuk menyatakan perasaan cintanya yang sudah lama tertahan pada Rosie di atas puncak Rinjani. TTegar mengajak Rosie untuk mendaki gunung Rinjani. Namun Tegar juga mengajak seorang sahabat lainnya bernama Nathan untuk menemani.
Namun rencana itu malah menjadi bencana terbesar bagi Tegar. Bencana yang membuat perasaannya tersiksa selama bertahun-tahun lamanya.
Ketika Tegar hendak menyatakan perasaan cintanya pada Rosie di atas puncak Gungun Rinjani, Tegar mendapati Nathan sedang menyatakan cintanya pada Rosie. Dua bulan sebelum rencana pendakian itu, Tegar sengaja memperkenalkan Nathan pada Rosie. Tapi dua puluh tahun waktu Tegar mengenal Rosie ternyata tidak bisa mengalahkan dua bulan masa waktu Nathan mengenal Rosie. Entah siapa yang salah? apakah memang Tegar yang tidak pernah berada di relung hati paling dalam Rosie sehingga tidak akan pernah ada kesempatan untuk Tegar bisa memiliki Rosie, ataukah karena meman Tegar sendirilah yang tak pernah membuat kesempatan itu ada. Tegar berlari menghilang dari Rosie dan Nathan.
Tegar memutuskan pergi menjauh dari Gili Trawangan. Tegar pergi ke Jakarta. Hari-hari yang Tegar lalui di Jakarta begitu menyiksa. Apalagi setelah Tegar mengetahui bahwa Nathan dan Rosie akan segera menikah.
Seperti kalimat dalam buku ini yang begitu dalam bagi saya,
“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”
Bertahun-tahun lamanya Tegar harus menyibukan dirinya sendiri untuk membunuh rasa rindu itu datang. Rasa rindu juga benci. Hingga pada suatu hari, tiba-tiba Rosie dan Nathan berhasil menemukan keberadaan Tegar dan menemukan Tegar di sebuah Apartement. Ada satu hal yang membuat perasaan benci Tegar pada Rosie dan Nathan seketika itu hilang. Yaitu ketika seorang gadis kecil yang tak lain adalah putri dari Nathan dan Rosie yang tiba-tiba begitu akrab dengannya. Inilah salah satu yang disebut dengan sebuah pemahaman baru tentang arti cinta.
Awal masalah timbul ketika Nathan harus tewas dalam sebuah insiden Bom ketika keluarga kecil Nathan dan Rosie sedang berlibur di bali. Rosie yang keadaan mentalnya menjadi terganggu memaksa Tegar harus tinggal kembali di Gili Trawangan untuk menjaga putri-putri kecil Rosie dan Nathan. Rasa sayang Tegar pada putri-putri Rosie dan Nathan telah menghilangkan segala kebencian dan kisah menyakitkan yang Tegar alami karena Nathan dan Rosie. Tapi permasalahan lain adalah, ketika Tegar memutuskan untuk tinggal di Gili Trawangan dalam waktu yang lama, Tegar hampir melupakan bahwa ada seorang wanita yang sedang menunggunya untuk kembali pulang ke Jakarta. Sekar, gadis yang sangat mencintai Tegar setulus hati.
Seteleh selesai membaca novel ini, saya mendapatkan sebuah pemahaman baru tentang arti cinta. Novel ini mengajarkan bagaimana menyikapi cinta dan takdir. Kira bisa belajar dari sosok Tegar yang melihat cinta dengan pemahaman baru. Kita bisa belajar dari sosok Jasmine, salah satu putri Rosie dan Nathan yang ketika itu berhadapan langsung dengan pelaku bom perenggut nyawa ayahnya, namun malah menunjukan sebuah kelapangan hati yang besar serta ketulusan untuk belajar memaafkan.
Dan tentunya kita bisa belajar dari Sekar, yang menunjukan bagaimana caranya mencintai dengan setulus hati.
Masih banyak tokoh-tokoh lain yang teramat penting bagi saya. Tokoh-tokoh lain yang memberikan pelajaran hidup, juga pemahaman baru tentang bagaimana kita memandang dan menyikapi suatu hal.
Penilaian saya untuk novel ini adalah 4 dari 5.
“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”
“Kata orang bijak, kita tidak pernah merasa lapar untuk dua hal. Satu, karena jatuh cinta. Dua, karena kesedihan yang mendalam. Maka akan lebih menyakitkan akibatnya ketika kita mengalami jatuh cinta sekaligus kesedihan yang mendalam.” – Sunset Bersama RosieSumber : http://gungunst.com/review-buku-novel-sunset-bersama-rosie-darwis-tere-liye/

»»  Baca Selengkapnya...

Tere Liye - Rindu

Setelah sekian lama saya tidak nge-Blog lagi,.
Hari ini saya kembali ..

Sumber: goodreads.com
Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Editor : Andriyati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : ii + 544 hal; 13.5x20.5 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2014
Harga : Rp. 63.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)

Sinopsis Buku:
"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Selamat membaca.

***
Sebuah perjalanan panjang ini dimulai ketika sebuah kapal besar bernama Blitar Holland mendarat di Pelabuhan Makassar. Kapal tersebut nantinya akan berhenti dan menaikkan penumpang di Pelabuhan Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh. Kapal itu akan terus melaju hingga Jeddah karena para penumpang kapal tersebut adalah calon jamaah haji. 

Satu persatu, tokoh dalam novel ini diperkenalkan. Tersebutlah Daeng Andipati, seorang yang terpandang karena telah berhasil menyelesaikan sekolahnya di Belanda. Ia bersama istri dan kedua anaknya, Elsa dan Ana. 

Gurruta atau Ahmad Karaeng pun menjadi tokoh penting dalam novel ini. Ia adalah seorang ulama masyhur. Adapula Kapten Philips, kapten kapal yang akan membawa penumpang menunaikan ibadah haji di Mekah. Serta ada Ambo Uleng, seorang kelasi pendiam yang direkrut oleh Kapten Philips dan menjadi satu-satunya kelasi yang dapat berbahasa Melayu. 

Setelah berhenti di beberapa pelabuhan, rupanya kapal Blitar Holland ditumpangi oleh sepasang kakek - nenek yang saling mencintai. Keromantisan pasangan yang tidak lagi muda itu membuat iri seluruh penghuni kapal. 

Hari demi hari berlalu. Kisah perjalanan panjang itu mulai terangkai dan pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu hadir. Ya, ada lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang dalam kapal Blitar Holland.
Setiap perjalanan selalu disertai pertanyaan-pertanyaan. (hal.222)
***
Penasaran dengan lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang kapal Blitar Holland? Jawabannya ada pada sinopsis buku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentang:
1. masa lalu yang memilukan. 
2. kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. 
3. kehilangan kekasih hati. 
4. cinta sejati. 
5. kemunafikan. 

Mungkin kelima poin diatas merupakan permasalahan yang sering kita temui dalam kehidupan kita. Jika kamu butuh penjelasan mengenai lima poin di atas, maka novel ini layak kamu baca.

Lima pertanyaan dari lima penumpang kapal diceritakan secara runtut dan mudah dipahami pembaca. Ceritanya mengalir begitu saja. Pun dengan jawaban atas pertanyaan tersebut, mudah diterima.
Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu? Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. (hal 312)

Penggalan paragraf diatas adalah jawaban atas pertanyaan pertama. Lugas dan jelas bukan? Banyak pelajaran hidup dan nilai moral yang dapat kita ambil dari membaca novel ini. Bahkan meski apa yang kita alami tidak sama persis dengan apa yang dialami oleh tokoh dalam cerita, nilai-nilai tersebut tetap baik jika diterapkan dalam kehidupan kita.
"... aku membencinya. Aku membenci ayahku sendiri." (hal. 370)
"Ada orang-orang yang kita benci. Ada pula orang-orang yang kita sukai. Hilir mudik datang dalam kehidupan kita. Tapi apakah kita berhak membenci orang lain? ... Pikirkan dalam-dalam, kenapa kita harus benci? Kenapa? Padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri." (hal. 373)

Dan bagi kawula muda serta remaja-remaja yang sering mempertanyakan arti cinta sejati, maka novel ini pun hadir memberikan jawabannya.
" Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka-cita. Aku tahu, kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya. Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pencinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia." (hal.492)

 ***
Novel 'Rindu' karya Tere Liye ini memiliki cover yang sederhana namun terlihat manis dan romantis. Awalnya aku mengira, novel ini akan menceritakan tentang kisah cinta yang mengharu biru seperti novel Tere Liye yang lain; Sunset bersama Rosie atau Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. 

Akan tetapi, aku salah. Novel ini lebih menceritakan tentang perjalanan berbulan-bulan menggunakan kapal dalam rangka menunaikan ibadah haji. Perjalanan tersebut (dalam cerita) dilakukan sebelum Indonesia merdeka sehingga latar tempat dan waktu disesuaikan dengan jamannya. Di beberapa percakapan pun terlihat menggunakan bahasa Belanda, dimana saat itu Indonesia statusnya masih dijajah Belanda.
Mag ik uw kaartje, Meneer?" (hal.35)
Aku yakin, Tere Liye sebagai penulis novel tersebut tidak asal menulis tanggal dan mengarang tempat kejadian. Dia pasti sudah membaca banyak literature sebelum menulis novel ini.

Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, novel 'Rindu' ini tidak dilengkapi dengan kata persembahan, ucapan terima kasih, bahkan tidak ada Daftar Isi. Judul masing-masing hanya ditulis Satu, Dua, Tiga ... hingga Lima Puluh Satu dan berujung pada Epilog. Dan seperti biasa, Tere Liye dalam novel-novel karangannya tidak pernah mencantumkan Profil Penulis. 

Secara keseluruhan, novel 'Rindu' ini bagus. Ceritanya memberikan nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita. Kisahnya dapat membawa kita merasakan suasana di kapal besar dan menghabiskan waktu berhari-hari di tengah lautan. Kita pun dapat belajar dari tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita. Good!

Sumber : http://wamubutabi.blogspot.com/2014/10/resensi-rindu-tere-liye.html


»»  Baca Selengkapnya...
 

Every Thing Will be Alright © 2008. Design By: SkinCorner