Judul Novel : Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Karya : Tere Liye
Jumlah : 426 halaman
Penerbit : Republika
Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Ini bukan novel baru Tere Liye, karena cetakan pertama telah beredar
tahun 2009. Secara jujur semakin saya membaca karya-karya Tere Liye,
semakin saya terkagum-kagum dengan pencipta manusianya. Ya, darimana ide
itu berasal? Darimana indahnya kalimat menetes mengalir mengisi
kertas-kertas kosong yang tersedia di hadapan? Darimana seseorang mampu
mengaitkan peristiwa satu dengan yang lain dengan jalinan imajinasi yang
demikian berkesinambungan? Saya percaya bahwa Tere Liye hanyalah
jelmaan kehendakNya mengajarkan hikmah pada manusia. Tentu sebagai
manusia, Tere Liye dilengkapi dengan kekurangan-kekurangan yang
menyertainya. Tak semua karya mungkin sama kualitas dan sama
menyentuhnya di hati para pembaca, itu hal yang amat jamak. Namun
setidaknya upaya berdakwah dan memperluas wawasan, memberikan pemahaman
tentang hidup yang diselipkan dalam karya-karyanya amat nyata terbaca.
Maka setelah beberapa novel kami nikmati sebagai hidangan lezat di
keluarga kami, saya memesan Rembulan Tenggelam di Wajahmu melalui sms ke
toko buku online Delisa di 0898-909-8467. Buku itu kemudian dikirimkan
4 hari setelah transfer, plus bonus tanda tangan si penulisnya. Ini
tentu kegembiraan pertama yang saya dapatkan sebelum membaca karyanya :)
***
Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang lelaki bernama Rehan
Raujana. Nama yang diberikan oleh Ibu Panti yang membesarkannya. Kata
kehidupan ini bukan hanya sepenggal kisah perjalanan singkat saja,
melainkan keseluruhan kisah hidup tokoh utamanya dari ia dilahirkan di
dunia hingga menjelang akhir hayatnya.
Tere Liye menyajikan kisah ini dengan sangat unik, karena dikemas dalam
alur mundur melalui perjalanan metafisik yang amat fantastis dan
menarik. Ini bukan tentang biografi seorang anak manusia, namun terlebih
pada aneka hikmah pembelajaran yang lebih dalam untuk memaknai hidup
itu sendiri.
Sekitar 5 hari sebelum meninggalnya Ray ( nama panggilan ketika sudah
dewasa), yang ketika itu berusia 60 tahun, dan dalam keadaan sakit
keras, ia didatangi oleh seorang yang disebut penulis sebagai “orang
berwajah menyenangkan”. Saya yakin yang dimaksud penulis adalah asosiasi
dari Nabi Khidir, untuk menemani perjalanan metafisik menapaki
kehidupan dari kecil hingga tua seorang pasien bernama Ray, yang adalah
seorang konglomerat dengan kerajaan-kerajaan bisnis di property,
telekomunikasi dll yang ia raih dengan perjalanan amat berliku.
Ini bukan sekadar pemutaran ulang kisah hidup, namun Ray diberi
kesempatan melihat dari sisi lain yang ia tidak pernah tahu sebelumnya.
Perjalanan inilah yang akhirnya mampu menjawab lima besar pertanyaan
yang mengetuk-ngetuk hati dan kepalanya sepanjang hidupnya.
Di masa kecil, Ray yang masih dipanggil Raehan, tinggal di sebuah panti
asuhan dan tak tahu asal mula kehidupannya sendiri. Ia tumbuh menjadi
seorang anak lelaki bandel, fisik yang kuat, namun berotak amat
cerdasnya. Ia menjadi bandel adalah semata-mata karena dipicu lingkungan
panti asuhan yang “amat tidak ideal”. Penjaga panti ialah seorang yang
“mengeksploitasi” anak-anak dengan mempekerjakan mereka di jalanan. Ia
pun menyalahgunakan sumbangan dari para donatur untuk mencapai
ambisinya yang adalah ; naik haji. Satu kemunafikan yang jelas amat
bertentangan dengan tujuan mulia itu pastinya.
Rehan yang cerdas dapat menangkap peta politik si penjaga panti,
sehingga ia menjadi seorang yang skeptis. Termasuk skeptic terhadap
takdir hidupnya sendiri. Sebenarnya teman sekamar Rehan yang bernama
Diar amat menyayanginya. Diar yang amat peduli. Yang selalu menyisakan
setengah jatah makanannya ketika sahabatnya pulang larut malam dengan
memanjat pagar dan mencongkel jendela kamar. Sahabatnya yang
keterampilannya meningkat dari hari ke hari. Jika saat itu Rehan tidak
peduli dan menerima kebaikan dengan datar-datar saja, itu karena mata
dan hatinya sudah diliputi perasaan benci. Benci terhadap penjaga panti
yang sok suci di matanya. Benci terhadap takdirnya.
Hingga menggiringnya memilih kabur dari panti asuhan itu dan memilih menjadi preman di terminal, dan mulai belajar berjudi.
Namun sebelum itu, Rehan yang cerdas berhasil masuk ke ruang arsip untuk
mencari tahu asal usul dirinya. Di sanalah ia menemukan sebuah berkas
bertuliskan nama lengkap Rehan Raujali, dan sepotong guntingan kertas
koran yang sudah hampir menguning. Sebuah berita di surat kabar yang
mengabarkan peristiwa kebakaran bangunan ruko dan membakar habis seluruh
isi dan penghuninya, kecuali seorang bayi laki-laki yang tersisa. Nalar
dan logikanya kemudian mulai merangkai peristiwa demi peristiwa, dan
menyimpulkan, bahwa bayi laki-laki malang itulah dirinya. Siapa yang
melakukan perbuatan keji itu??
Teramat banyak kepahitan hidup yang dialami setelah ia kabur dari panti
asuhan. Diar, sahabat baiknya sebagaimana penghuni panti lainnya
menjalani keseharian dengan bekerja. Dan saat itu Diar bekerja sebagai
penjaga toilet umum di terminal, tempat Rehan melangsungkan aksinya
sebagai preman. Rehan mencuri celana jins milik supir bis malam yang
sedang mandi di toilet umum tersebut, dan lalu membawanya lari untuk
dijual. Uang hasil penjualannya selain untuk membeli makan, juga
dihabiskan di meja judi.
Sementara Diar yang tidak sempat menjelaskan tentang siapa pencuri
celana jins tersebut menjadi korban amuk massa dengan siksaan yang amat
mengerikan. Beruntung polisi segera datang sebelum massa membakarnya
hidup-hidup, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Di ruang ICU itulah
Diar bersebelahan dengan Rehan yang dirawat di ruang yang sama dalam
kondisi sama kritisnya. Petualangan Rehan di meja judi, menang-kalah dan
lalu menang lagi hingga menggulung habis kekayaan si Bandar judi harus
dibayar mahal. Ia ditemukan polisi dengan luka 7 tusukan di lambung yang
amat parah. Dan takdir pula yang menentukan hingga keduanya dirawat di
ruang ICU yang sama.
Di sinilah ternyata ruang yang ditentukan langit untuk menjadi titik
balik si penjaga panti. Diar dalam kesaksian terakhirnya mengakui bahwa
dialah perusak tasbih milik penjaga panti. Ketika itu Rehan mengakui
kesalahan itu sebagai kesalahannya hingga hukuman cambuk dan siksaan itu
ditanggungnya dengan sepenuh ketegaran. Bagi Rehan, pengakuan itu hanya
sebagai bentuk perlawanan. Sementara bagi Diar, peristiwa itu amat
meninggalkan kesan mendalam sehingga terhitung hari itu, ia bersumpah
untuk selalu menghargai Rehan, sahabatnya. Ia tak peduli bagaimana pun
kebandelan Rehan, dan bagaimana pun Rehan di mata orang lain, di mata
Diar, Rehan adalah pahlawan. Rehan adalah orang yang amat dia sayangi.
Detik-detik akhir sebelum akhirnya Diar menghembuskan napas terakhirnya,
ia menitipkan Rehan pada penjaga panti agar menyelamatkannya. Penjaga
panti yang seperti menemukan cahaya di lorong gelap, serta merta
dibukakan matanya atas seluruh kesalahan besar yang ia lakukan selama
ini. Dan tabungan yang hampir terkumpul untuk menunaikan ibadah haji
diambilnya untuk membiayai pengobatan Rehan ke ibu kota. ( Peristiwa
demi peristiwa ini dikisahkan oleh orang berwajah menyenangkan pada Ray,
karena ketika itu jelas Ray tidak pernah tahu tentang apa yang Diar
pikirkan. Termasuk ketika Diar meninggal pun, Ray tidak tahu karena saat
itu dia sendiri sedang kritis).
Kepahitan hidup Rehan remaja sempat berhenti ketika ia dititipkan ke
sebuah rumah singgah sepulang ia berobat selama 6 bulan di ibu kota itu.
Rumah singgah yang pertama kali mengajarkannya tentang arti sebuah
keluarga. Bang Ape, pemilik /pengelola rumah singgah itu mengajarkan
banyak hal. Termasuk motivasi yang terus menerus ditanamkan untuk
menjadi orang yang baik. “
Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepalan tangan untuk mengubahnya”,
adalah salah satu kalimat motivasi yang amat dalam tertanam di hatinya,
dan juga pastinya di hati teman-teman rumah singgah itu.
Ketika salah seorang diantara mereka diadopsi orang sehingga harus
meninggalkan rumah singgah itu, kembali Bang Ape memberikan mantranya ; “
Kalian
akan tetap menjadi saudara di mana pun berada, kalian sungguh akan
tetap menjadi saudara. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang
hilang dari sebuah kenangan. Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara”
Dan memang bagi Rehan, anak-anak di rumah singgah amat berarti baginya,
sehingga kembali naluri kepahlawanan itu muncul ketika salah seorang
anggotanya diganggu oleh preman. Dan perkelahian demi perkelahian
karena solideritas Rehan tentu bertentangan dengan apa yang diajarkan
Bang Ape. Bahwa kejahatan tak selamanya harus dibalas dengan kejahatan.
Atau banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk membalas kejahatan, sama
sekali jauh dari keyakinan Rehan. Jika bukan dia yang membalas, siapa
lagi? Jika bukan dia yang peduli siapa lagi? Bukankah semua orang yang
melihat sebuah kasus-kasus kejahatan itu jamaknya memilih diam dan
mengamankan diri sendiri? Akhirnya kehidupan di rumah singgah pun
berakhir juga dengan cara yang sama: kabur. Kali ini karena ia merasa
bahwa ia tak dapat mengikuti apa yang diajarkan dan diyakini oleh Bang
Ape, orang yang amat ia hormati.
Rehan meneruskan hidup sebagai pengamen di kereta. Keahlian bermain
gitar yang diperoleh dari Natan, seorang sahabatnya di Rumah Singgah
ternyata mampu menjadi salah satu jalan menyambung hidupnya. Berbeda
dengan Natan yang memiliki suara bagus, Ray hanya mengamen dengan gitar
tanpa lagu yang mengiringi.Ia tinggal di kontrakan sempit dan kumuh yang
bertetangga dengan sebuah rumah besar yang mentereng.
Satu hal kebiasaan Rehan dari semasa di Panti dulu adalah memandang
rembulan setiap purnama tiba. Hanya dengan mengagumi keindahan rembulan,
Rehan mampu menangkap satu keindahan hidup yang menentramkannya.
Sampai suatu saat ketika ia dengan lincah turun dari tower air yang
tingginya mencapai 10 meter, pengontrak rumah mentereng di sebelah tower
itu terkagum-kagum dan mengajaknya berkenalan.
Di kemudian hari, lelaki yang menawarkan persahabatan dengan secangkir
coklat panas itu mengajak kerja sama. Yang adalah melakukan pencurian
berlian seribu karat yang tersimpan di lantai 40 gedung di ibukota.
Kisah detail tentang bagaimana keduanya mempersiapkan ‘proyek besar’
amat menegangkan tentu saja. Dimulai dari latihan lari pagi selama
beberapa bulan sebelumnya untuk menjaga stamina, bagaimana merencanakan
secara rapi aksi tersebut, bagaimana menaiki gondola pembersih kaca
gedung tersebut dan bagaimana menjinakkan alat pendeteksi pengamanan
benar-benar membuat setiap pembaca ‘deg-deg plas’ mengikutinya :D
Sebuah lembaran baru hidup Ray (nama baru yang kemudian ia sematkan
untuk dirinya sendiri) dimulai ketika ia memutuskan untuk pulang kampung
setelah bertahun-tahun merantau ke ibukota. Saat itulah masa
pembangunan diri buatnya. Ia memutuskan menjadi kuli bangunan di sebuah
proyek pembangunan gedung bertingkat. Kecerdasan dan mental yang ulet
membuat kinerjanya amat bagus sehingga Ray naik posisi dengan cepat. Dan
pengalaman hidup serta sifatnya yang bersahabat menjadikan ia didukung
penuh oleh para pekerja di bawahnya.
Dari sekian perjalanan panjang yang dilalui seorang Ray, mungkin babak
inilah masa termanis dalam hidupnya. Pertemuan tak disengaja di ruang
makan kereta yang membawanya ke kota itu memang telah membuat hari yang
berbeda. Namun ketika kemudian gadis itu tak menggubrisnya, ia memilih
untuk mencoba melupakan. Namun begitulah takdir sebuah cinta diatur oleh
pemilik hidup. Gadis itu kembali muncul di dekat lokasi proyek tempat
Ray bekerja.
Ray yang masih setia dengan kebiasaan lamanya memandang rembulan,
kembali melakukan hal yang sama. Kini lebih tinggi dari tower air,
karena dari ketinggian lantai 18 bangunan yang hampir rampung. Dari
teropong bintang yang dimilikinya ia menangkap gadis yang ditemuinya di
kereta itu masuk sebuah rumah sakit. Kisah cinta milik siapa pun juga
pasti selalu menarik untuk disimak. Lengkap dengan segala perjuangan
yang mewarnainya. Terlebih untuk seorang penulis Tere Liye yang mampu
menyulap segalanya menjadi jauh lebih indah, lebih mengesankan,
memilukan, membahagiakan dan segala warna-warni cinta yang mampu
tercipta dalam ruang imaji manusia.
Maka untuk babak ini, membacanya langsung buku ini pastinya lebih pas dan lengkap terasa :D
Singkat cerita, Ray akhirnya menikahi gadis cantik itu yang selanjutnya
ia panggil sebagai “Si Gigi Kelinci”. Pasangan yang sangat berbahagia.
Seorang suami pekerja keras dan seorang istri yang begitu setia dan
ikhlas mendukung dengan sepenuh hati adalah kombinasi paling indah tentu
saja.
Namun, lagi-lagi yang abadi dalam hidup adalah perubahan. Dan bahagia
sekian tahun kebersamaan dengan si gigi kelinci itu pun akhirnya
terenggut oleh takdir. Setelah dua kali kehilangan calon anak mereka
dalam kandungan, Ray harus rela melepas kepergian Si Gigi Kelinci untuk
selama-lamanya. Kepergian yang terlalu cepat pastinya untuk orang yang
ditinggalkannya. Namun sepotong kalimat luar biasa yang diucapkan
istrinya ketika menjelang maut, bukanlah sebuah pesan yang memberatkan
Ray. Ia justru berkata :
“Apakah aku cantik? Aku selalu ingin terlihat cantik di depanmu. Apakah kamu ikhlas denganku sebagai istrimu?”
Dan sosok Si Gigi Kelinci inilah yang ternyata juga menginspirasi banyak
pembacanya. Ya, Tere Liye berhasil menyematkan sebuah pesan, yaitu cara
sederhana untuk meraih surga melalui sosok sang istri yang pastinya
akan lebih tertangkap ketika kita menyimak detail ceritanya.
Kekecewaan demi kekecewaan hidup sungguh terasa amat senang menghampiri
hidup Ray. Kembali, Ray memilih melarikan diri, namun kali ini di jalan
yang berbeda. Ia menenggelamkan diri dalam kesibukan. Ia mulai
memberanikan diri membangun bisnis sendiri. Di sini pembaca baru
diingatkan kembali pada seribu karat berlian curian yang akhirnya
mengantarkan Plee, kenalan yang mengajaknya bekerja sama melakukan
proyek besar itu. Berlian yang disimpan di tangki air dengan kedalaman 3
meter di dekat rumah singgah itu akhirnya dijadikan modal untuk memulai
bisnis property.
Dari seorang anak panti, preman terminal, dan kuli bangunan, kini Ray
menjadi konglomerat yang memiliki kerajaan bisnisnya sendiri. Ray kini
telah menggenggam kekayaan yang tak terhingga. Namun hidupnya tetap sepi
dan hampa terasa. Cinta yang sempat hadir dalam kehidupannya pun
terenggut sudah oleh takdir.
Ray, laki-laki berkekuatan fisik lebih dari rata-rata di tengah gemilang
kerajaan bisnisnya ternyata semakin menyusut kesehatannya. Berbagai
penyakit menyerang dan tubuhnya kini digerogoti penyakit. Ia kini
menjadi pasien. Memang kondisinya berbeda. Jika dulu ia seorang yang
papa, kini ia adalah seorang pasien yang amat dihormati. Seorang anak
buah yang amat setia bernama Jo pun terus mendampini. Namun sakit dan
kepedihan hidup yang beruntun serta rasa hampa yang membangkitkan
nelangsa itu menjadikan ia marah pada takdir.
Kenapa ia harus hidup di panti asuhan sial itu?
Apakah hidup adil?
Kenapa langit tega mengambil istri tercintanya?
Apakah kaya adalah segalanya?
Kenapa ia harus sakit keras yang berkepanjangan?
Lima pertanyaan besar dalam hidup itu seolah mengetuk-ngetuk
kepalanya sepanjang hidup. Dan perjalanan metafisik itulah yang menjawab
satu demi satu pertanyaan itu. Jawaban yang diberikan dengan
mengungkapkan segala fakta dari sisi yang selama ini Ray tidak pernah
tahu. Peristiwa demi peristiwa yang oleh penulisnya diberikan sebuah
benang merah bahwa tak ada yang dapat merubah takdir kecuali satu ;
kebaikan. Juga bahwa setiap perbuatan dan jalan hidup manusia akan
saling berkaitan dan menjadi penyebab takdir manusia lainnya.
Di novel ini, saya membaca bagaimana Tere Liye berusaha menuangkan
segala pemikiran dan pemahamannya tentang hidup dan berkehidupan.
Membangkitkan kesadaran pada pembaca bahwa banyak sisi hidup yang tidak
ketahui dan ternyata tidak seperti yang kita pikirkan.
Perjalanan dan kilas balik yang dialami Ray ibarat kepingan puzzle yang
pada akhirnya ia temukan sehingga terbentuklah gambaran hidup yang utuh.
Ini adalah kisah sangat menarik untuk menjelaskan sebuah kalimat yang
terdengar klise lebih karena frekuensi yang kita dengar ; bahwa
sebenarnya tak ada sekeping perjalanan pun yang terjadi tanpa rencana
Tuhan.
Ya, apa yang kita sebut sebagai kepahitan hidup, ternyata hanya persepsi
kita semata. Andai kita selalu berbaik sangka pada takdir, seburuk apa
pun yang dihadapi, maka sesuatu menjadi sederhana saja. Hidup tidak
rumit.
Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama seperti Ray di akhir
hidupnya. Kesempatan untuk kembali, kesempatan untuk menengok perjalanan
dan dibukakan kenyataan / peristiwa yang tak diketahuinya. Kedatangan
sesosok Nabi Khaidir ini pun oleh penulis diibaratkan sebagai sebuah doa
yang dikabulkanNya. Doa seorang ibu sebelum mati terbakar yang
melemparkan anak bayinya ke tangan laki-laki yang menolongnya dari
kebakaran. Bukankah doa seorang ibu mampu menjebol pintu langitNya?
Bukankah doa orang yang dalam penderitaan/kesusahan/aniaya amat dekat
untuk dikabulkanNya?
Maka di sinilah Ray mendapatkan kesempatan yang melanggar aturan yang
berlaku. Bahwa seseorang hanya bisa kembali ke sebuah tempat yang pernah
ia singgahi. Namun langit memberikan anugerah yang berbeda. Ray dalam
perjalanan metafisikanya itu mampu melihat ayah bundanya ketika ia masih
balita, mampu melihat kejadian pembakaran yang menewaskan keduanya. Dan
seterusnya.
Sebagai manusia, kita ibarat pemain dalam sebuah cerita. Kita hanya tahu
bagian cerita yang kita mainkan saja. Bagian demi bagian itulah yang
akan merangkai menjadi sebuah cerita yang utuh.
Maka peran apa pun yang kita terima hari ini, berbahagialah,
bersabarlah, berbaik sangkalah! Karena sesungguhNya, Tuhanmu dan Tuhanku
Maha Mengetahui dan skenario-Nya tak pernah keliru.
Sumber : http://media.kompasiana.com/buku/2014/01/12/rembulan-tenggelam-di-wajahmu-sinopsis-627361.html